Selasa, 27 Agustus 2019






UPS


Komputer adalah salah satu perangkat elektronik yang sangat rentan terhadap masalah ketidakstabilan arus dan tegangan listrik ini. Selain kerusakan data karena mungkin kita belum sempat melakukan penyimpanan data dari pekerjaan kita, masalah ini juga sangat berbahaya bagi komponen-komponen komputer. Ketidakstabilan listrik ini pertama-tama akan menyerang power supply dari komputer kita. Jika tidak segera diatasi, maka masalah ini bisa saja menyerang komponen motherboard komputer kita, dimana ini merupakan komponen yang sangat vital dan mahal.
Untuk menyiasati dan mengamankan segala komponen dari komputer kita, dianjurkan untuk menghubungkan daya komputer kita ke Uninterruptible Power Supplies atau yang lebih dikenal dengan sebutan UPS. Jika Anda banyak bekerja menggunakan komputer, UPS ini wajib sifatnya. Dikarenakan kita tidak tahu apakah listrik yang masuk tidak akan padam secara mendadak.
Selain itu adalah umum bahwa arus dan tegangan listrik yang masuk tidak selalu stabil, yang berpotensi merusak komponen-komponen komputer Anda. Berikut ini kita akan membahas tentang pengertian UPS, fungsi UPS, dan cara kerja UPS. Mari kita simak mengenai pengertian UPS beserta fungsi dan cara kerjanya agar kita mengetahui betapa pentingnya perangkat yang satu ini.
PENGERTIAN UPS
Uninterrutible Power Supplies (UPS) yang juga dikenal dengan istilah “uninterruptible power source” adalah perangkat ektronik yang mampu menyediakan cadangan listrik sementara ketika arus listrik utama terputus.













UPS mampu memberikan perlindungan hampir seketika saat terjadi pemutusan sumber listrik. Perangkat UPS ini dapat digunakan untuk melindungi segala jenis alat elektronik yang sensitif terhadap ketidakstabilan arus dan tegangan listrik.
Namun pada umumnya UPS digunakan untuk melindungi komputer supaya ketika terjadi kehilangan daya secara mendadak, kita masih sempat mematikan komputer kita secara benar untuk menghindari kerusakan baik software terlebih hardware.

Fungsi UPS
UPS memiliki tiga fungsi utama, yaitu 1) sebagai alat untuk menstabilkan tegangan arus listrik, 2) memberikan cadangan listrik sementara, dan 3) sebagai alat bantu backup data. Mari kita simak uraian lebih jelasnya mengenai masing-masing fungsi UPS tersebut.
1. Sebagai alat untuk menstabilkan arus listrik
Listrik yang mengalir ke komputer di rumah maupun kantor kita tidak selalu dalam keadaan yang konstan. Seringkali arus listrik yang mengalir terkena hambatan listrik sehingga tegangan listrik menurun. Tegangan listrik yang menurun ini bisa jadi sangat membahayakan bagi alat elektronik baik di rumah maupun kantor, tidak terkecuali komputer kita.
Jika tegangan listrik naik turun beberapa kali saja tentu tidak masalah. Namun jika tegangan listrik ini tidak stabil dalam jangka waktu panjang dan sering terjadi maka akibatnya akan sangat fatal dan merugikan. Di Indonesia pada khususnya, listrik masih menjadi masalah dimana seringkali terjadi pemadaman, ketidakseimbangan antara persediaan listrik dan permintaan tidak seimbang, serta jauhnya pendistribusian listrik menyebabkan masalah ketidakstabilan tegangan listrik ini.
Nah disini peranan UPS sangat penting. UPS ini dapat membantu menstabilkan tegangan listrik yang masuk pada komputer kita. Bisa dikatakan UPS ini adalah perangkat yang wajib untuk dipasang jika kita ingin komputer kita awet.

2. Memberikan cadangan listrik sementara

Masih berkaitan dengan poin yang pertama, fungsi UPS adalah unutk menyediakan listrik cadangan sementara bagi komputer kita. Karena masalah listrik yang sering terjadi tersebut, terkadang ketika kita tengah mengerjakan sesuatu di komputer kita, tiba-tiba listrik mati. Padahal kita belum menyimpan hasil pekerjaan kita. Meskipun software-software telah dilengkapi dengan fitur autosave, tetapi tidak semua bagian krusial pekerjaan kita sempat tersimpan secara otomatis.
Di sini UPS dapat kita andalkan. UPS ini bersifat seperti baterai yang mempu memberikan listrik cadangan sementara sehingga kita sempat menyimpan file pekerjaan kita dan mematikan komputer kita ketika listrik tiba-tiba mati. Dengan demikian kita menyelamatkan hasil pekerjaan kita sekaligus juga komputer kita dari risiko kerusakan komponen akibat pemutusan tegangan secara mendadak.
Cadangan listrik sementara yang diberikan oleh UPS tentu tidak akan selamanya. Berbagai jenis UPS mempunyai kapasitasnya masing-masing dalam menyediakan cadangan listrik sementara untuk komputer kita ketika listrik mati secara mendadak. Disarankan jika ingin membeli perangkat UPS untuk melindungi perangkat komputer Anda, sebaiknya Anda memilih UPS yang setidaknya bisa bertahan hingga 15 menit.

3. Sebagai alat bantu backup data

Fungsi UPS yang ketiga ini sebenarnya mirip dengan fungsi yang kedua tadi. Hanya saja fungsi ini lebih didedikasikan bagi komputer yang terhubung ke jaringan atau server.
Tidak jarang di perkantoran komputer-komputer dihubungkan terintegrasi secara menyeluruh ke dalam server kantor untuk memudahkan transaksi data internal kantor. Untuk memastikan bahwa data tidak hilang atau rusak ketika listrik mati sementara data sedang disinkronisasi, maka UPS bisa sangat membantu.
Umumnya selain UPS ini, kantor juga menyediakan sumber listrik cadangan yang lebih besar yaitu genset. Namun listrik yang dihasilkan oleh genset ini juga seringkali tidak stabil. Oleh karena itu , seperti kita bahas pada fungsi pertama tadi, penggunaan UPS adalah suatu keharusan untuk menjamin keamanan perangkat komputer

Cara Kerja UPS

Cara kerja UPS secara umum ada 3 jenis, yaitu sistem 1) standby (off-line) UPS, 2) line-interactive UPS, dan 3) on-line UPS. Berikut kita akan membahas apa perbedaan dari ketiga cara kerja UPS tersebut.

1. Cara kerja UPS sistem standby (off-line)



merupakan jenis UPS rumahan yang paling banyak digunakan. Anda juga mungkin memilikinya. Harganya pun lebih terjangkau, di bawah 500ribu rupiah untuk merek standar. Untuk penggunaan alat-alat sederhana, jenis UPS inilah yang digunakan. Memiliki tingkat efisiensi yang tinggi, akan tetapi juga memiliki beberapa kekurangan. Diantaranya adalah baterai tetap terpakai meskipun dalam kondisi mati serta tidak bisa digunakan untuk pemakaian di atas 2kva. Jadi memang untuk ukuran rumahan saja.
Cara kerja UPS jenis ini melakukan pengisian daya langsung dari sumber listrik dan menyimpannya ke dalam baterai penyimpanan listrik cadangan yang hanya digunakan saat listrik putus. Perangkan komputer langsung dihubungkan dengan UPS ini.
Ketika tegangan yang masuk ke UPS ini tidak stabil, maka UPS jenis ini akan menyalakan sirkuit inverter DC-AC internal yang didukung oleh bateri candangan UPS ini. UPS dengan cara kerja seperti ini umumnya mempunyai harga yang relatif murah dengan spesifikasi di bawah 1kVA.

2. Cara kerja UPS sistem line-interactive


Cara kerja UPS sistem line-interactive ini bekerja dengan cara mempertahankan jalur inverter dan mengalihkan arus DC baterai dari mode charging ke mode penyediaan daya ketika listrik padam.
Di dalam UPS tipe ini terdapat autotransformer yang bisa mengatur mode papda UPS jenis ini dari mode charging maupun supplying melalui identifikasi kestabilan tegangan listrik yang masuk. Dalam kondisi voltase rendah, UPS ini akan menyesuaikan arus masuk dan keluar sehingga pada keadaan tersebut UPS tipe ini akan membutuhkan arus masukan lebih besar.

 

 

 

3. Cara kerja UPS sistem on-line



Cara kerja UPS tipe ketiga ini adalah dengan menggunakan metode “double conversion” dari arus AC yang diterima kemudian melanjutkannya ke baterai internal baru kemudian dialirkan kembali ke daya 120V/240V AC untuk melindungi komputer kita. Secara umum teknologi yang digunakan pada UPS sistem ini sama dengan sistem line-interactive. Sistem ini umumnya mempunyai kapasitas besar sehingga mahal.
Itulah pembahasan mengenai pengertian UPS beserta fungsi dan cara kerjanya. Perangkat ini memiliki peran yang penting, apalagi bagi perusahaan dan sekolah. UPS ini mampu menyediakan cadangan listrik sementara ketika arus listrik utama terputus secara tiba-tiba. Tentu hal ini merupakan hal yang positif bagi perusahaan dan sekolah, mereka tetap dapat melanjutkan aktivitas seperti biasa meskipun listrik utama padam.
Selain mengetahui beberapa fungsi danm kegunaan dari UPS di atas, Anda juga perlu tahu beberapa macam jenis dan tipe UPS yang ada di pasaran agar bisa disesuaikan dengan kebutuhan Anda sebagai pengguna. Secara umum berikut ini beberapa merek UPS terkenal yang bagus yang sering digunakan dan juga ada di pasaran seperti APC, CyberPower Delta, Emerson, IBM, ICA, Matsumoto, Micropack, Montero, Prolink, Yuasa dan yang lainya dengan macam jenis dan tipe UPS seperti berikut:

4. UPS Double Conversion Online

Tipe ini merupakan yang paling lazim untuk UPS dengan daya lebih dari 10kVA. Tipe ini memiliki kesamaan dengan tipe Standby. Hanya saja tipe ini memiliki sumber tenaga utama yang terletak pada Inverter, bukan pada sumber listrik AC. Dapat dikatakan tipe ini mendekati gambaran ideal dari sebuah UPS, sayangnya tipe ini menghasilkan panas yang cukup tinggi.

5. Delta Conversion Online

UPS ini merupakan bentuk teknologi Konversi Ganda (Double Conversion) yang terah diperbaharui dan tersedia dengan daya 5kVA hingga 1.6MW. Memiliki kemiripan dengan tipe Double Conversion, tipe ini menggunakan Inverter untuk selalu memasok voltase. Saat pasokan tenaga terputus, tipe ini melakukan hal yang sama dengan tipe Double Conversion.
Pastikan UPS dilengkapi dengan AVR(stabilizer) dan Fuse (anti petir), sehingga tegangan listrik yang turun atau naik dan tidak stabil dapat dicegah sehingga kerusakan pada perangkat komputer dapat diminimalisir. Dan untuk Kalangan Pengguna rumahan, Jika anda memiliki Komputer, Printer, Scanner maka gunakan UPS yang tidak terlalu besar kapasitasnya karena yang paling penting perangkat komputer bisa bertahan beberapa menit untuk mematikannya secara normal sehingga mencegah kerusakan pada Komputer dan perangkat lainnya.


TERIMAKASI


Macam-Macam Alat Ukur Listrik serta Cara Menggunakannya

Umumnya, listrik dibagi menjadi 2 macam, yaitu listrik statis dan listrik dinamis. Listrik statis adalah listrik yang elektronnya tidak berpindah-pindah atau diam, sedangkan listrik dinamis adalah listrik yang elektronnya dapat berpindah-pindah atau bergerak. Pada listrik dinamis, jika perpindahan elektronnya searah, listrik ini disebut dengan arus listrik DC (Direct Current), tetapi jika perpindahan elektronnya bolak-balik, listrik ini disebut dengan arus listrik AC (Alternating Current).
Arus listrik AC adalah arus listrik yang arahnya selalu bolak-balik dan besarannya selalu berubah sehingga membentuk gelombang sinusoida atau yang biasa disingkat dengan gelombang sinus. Sementara itu, arus listrik DC adalah arus listrik searah yang sebenarnya mengalir dari kutub negatif ke kutub positif. Untuk mengetahui besaran arus listrik, kita membutuhkan alat ukur listrik yang baik.

Macam-Macam Alat Ukur Listrik AC

Untuk mengukur arus listrik yang arahnya selalu bolak-balik atau arus listrik AC, kita dapat menggunakan beberapa alat ukur listrik seperti berikut ini.

Amperemeter AC


Untuk mengetahui besarnya arus pada rangkaian listrik AC, kita dapat menggunakan Amperemeter AC yang disusun secara seri. Nantinya, alat ukur listrik ini akan mendapatkan arus yang melewati penghantar yang dipasangkan pada suatu rangkaian listrik AC.

Adapun cara menggunakan Amperemeter AC adalah sebagai berikut.
·      -    Pasang Amperemeter AC pada rangkaian listrik secara seri dengan memotong      konduktor agar arus listrik dapat melewati Amperemeter.
·       -   Sambungkan Amperemeter AC ke konduktor yang sudah dipotong tadi.
·       -    Ukur arus listrik dengan memperhatikan jarum yang menunjukkan angka pada      Amperemeter AC.
·       -   Untuk mendapatkan besaran arus listrik yang tepat, kita harus benar-benar         memahami dan memperhatikan karakteristik Amperemeter AC yang digunakan.
·        -   Untuk hasilnya, kita dapat menghitung besarnya arus listrik dengan                   mengalikan angka yang ditunjuk dan angka skala maksimum.                                                                                                                                                                                  

Frekuensi Meter



Untuk mengetahui banyaknya frekuensi pada rangkaian listrik AC, kita dapat menggunakan Frekuensi Meter. Frekuensi di sini adalah banyaknya jumlah getaran yang terjadi pada suatu rangkaian listrik AC setiap detiknya. Alat ukur listrik ini tidak dapat digunakan pada rangkaian listrik DC karena tidak memiliki frekuensi.

Adapun cara menggunakan Frekuensi Meter adalah sebagai berikut.
·       -  Siapkan frekuensi meter dengan lidah getar, kabel penghubung, dan setop   kontak.
·        - Pasang dengan benar kabel penghubung yang sudah disiapkan pada 2 lubang     frekuensi meter.
·         -Hubungkan secara bersamaan 2 kabel yang sudah dipasangkan pada frekuensi   meter ke setop kontak yang dialiri arus listrik bolak-balik atau arus listrik AC.
·         -Hasil pengukuran dapat kita peroleh dari lidah getar yang bergetar paling cepat.



    
                                       

Voltmeter AC/DC





Untuk mengetahui besarnya tegangan pada rangkaian listrik DC, kita dapat menggunakan Voltmeter DC yang disusun secara paralel. Selain menggunakan alat ukur listrik DC ini, kita juga dapat menggunakan multimeter dengan mengubah selector switch-nya menjadi DC Volt.
Adapun cara menggunakan Voltmeter DC adalah sebagai berikut.
·      -   Pasang Voltmeter DC pada rangkaian listrik secara paralel yang memiliki     potensial berbeda.
·      -  Sesuaikan pemasang kutub-kutub Voltmeter DC, kutub positif dipasangkan     dengan potensial tinggi dan kutub negative dipasangakan dengan potensial   rendah.
·       -  Lakukan pengukuran dengan melihat angka yang ditunjukkan pada Voltmeter     DC.
·        - Untuk hasilnya, kita dapat menghitung besarnya tegangan arus listrik dengan     mengalikan angka yang ditunjuk dan angka skala maksimum.                                   

Wattmeter 




Untuk mengetahui besarnya daya pada rangkaian listrik AC, kita dapat menggunakan Wattmeter yang terbuat dari perpaduan antara amperemeter AC dan voltmeter AC. Ada 3 macam wattmeter yang dapat kita gunakan untuk mengukur daya listrik, yaitu wattmeter analog, wattmeter digital, dan wattmeter induksi.
Adapun cara menggunakan Wattmeter digital adalah sebagai berikut.
·      - Hubungkan kabel In Put (POWER SOURCE) ke terminal WATT & 10 A.
·      - Hubungkan kabel Out Put (LOAD) ke terminal COM & V.
·      - Geser tombol ke posisi ON untuk menghidupkan Wattmeter digital.
·      - Tekan tombol PILIHAN untuk mengukur daya yang diinginkan. 
    - Pilihan Watt 1 untuk daya 2.000 Watt dan Watt 2 untuk daya 6.000 hingga X10   Watt.
       -  Pilih WATT ZERO ADJUST di pengaturan untuk membuat tampilan layar   berangka nol.
·       -  Hubungkan kabel In Put ke setop kontak agar LOAD bekerja.
·        - Jika menggunakan Watt 1, tampilan layar Wattmeter adalah hasil ukur daya       pada LOAD.
- Jika menggunakan Watt 2, tampilan layar Wattmeter adalah hasil ukur daya     yang sudah dikalikan 10.
- Jika sudah selesai digunakan, matikan Wattmeter dengan menggeser tombol     ke  posisi OFF.


Clampmater

Cara menggunakan Tang Ampere atau Clamp Meter ini sebenarnya cukup mudah, yaitu dengan menjepitkan rahang penjepitnya ke kabel listrik yang diinginkan. Berikut ini adalah langkah-langkah selengkapnya untuk Mengukur Arus Listrik AC atau Ampere AC dengan menggunakan Clamp Meter (Tang Ampere).
  1. Putar atau setting Saklar Clamp Meter ke posisi Ampere Meter (biasanya tertulis huruf A dengan gelombang sinus diatasnya).
  2. Tekan Trigger untuk membuka rahang Penjepit Clamp Meter atau Tang Ampere.
  3. Jepitkan Rahang penjepit ke kabel Konduktor yang dialiri arus listrik AC (Kabel Listrik berada di tengah-tengah rahang penjepit) kemudian lepaskan Trigger Clamp Meter.
    Catatan : 
    Jika kabel listrik tersebut belum dialiri listrik, hubungkan kabel tersebut atau ON-kan perangkat yang ingin diukur arus listriknya. 
  4. Baca Nilai Ampere yang tertera di layar Clamp Meter (Tang Ampere).
  5. Untuk mengukur Tegangan dan Resistansi, cara pengukurannya hampir sama dengan Multimeter yaitu dengan menggunakan Probe yang dicolokan di Terminal COM yang berwarna Hitam dan Terminal Positif yang berwarna Merah.
  6. Dibawah ini adalah perbedaan Multimeter dan  Clamp Meter dalam mengukur Arus listrik 
                               

Prinsip Kerja Tang Ampere (Clamp Meter)

Pada dasarnya, Tang Ampere (Clamp Meter) menggunakan prinsip induksi Magnetik untuk menghasilkan pengukuran non-kontak terhadap arus listrik AC. Arus Listrik yang mengalir di kabel konduktor akan menghasilkan Medan Magnet. Seperti yang diketahui bahwa, arus AC adalah arus dengan polaritas yang bolak-balik, hal ini akan menyebabkan fluktuasi dinamis dalam medan magnet yang sebanding dengan aliran arus listriknya. Sebuah Transformator yang terdapat di dalam Clamp Meter/Tang Ampere akan merasakan fluktuasi magnet tersebut dan kemudian mengkonversikannya menjadi nilai Ampere (arus listrik) sehingga kita dapat membacanya di layar Clamp Meter. Cara Pengukuran dengan teknologi ini sangat mempermudahkan kita dalam mengukur arus listrik AC terutama pada arus listrik AC yang tinggi.


Rabu, 14 Agustus 2019

Sistem Bilangan pada Elektronika Digital

 Hasil gambar untuk sistem bilangan matematika pada teknik digital

Sistem Bilangan pada Elektronika Digital – Bilangan adalah objek matematika yang digunakan untuk pengukuran, penghitungan dan pelabelan. Sedangkan yang dimaksud dengan Sistem Bilangan adalah sistem penulisan yang digunakan untuk mengekspresikan bilangan. Sistem Bilangan juga dapat didefinisikan sebagai cara yang digunakan untuk mewakili besaran suatu item fisik. Setiap sistem bilangan menggunakan bilangan dasar atau basis tertentu yang dalam bahasa Inggris biasanya disebut dengan “Base” atau “Radix”. Dalam pengertiannya, Base atau Radix dari sistem bilangan adalah jumlah total digit atau jumlah suku angka yang digunakan dalam suatu sistem bilangan. Contohnya pada sistem bilangan Desimal, Radix dari sistem bilangan Desimal adalah 10, yang artinya adalah memiliki 10 suku angka yakni 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9.

 

Sistem Bilangan pada Elektronika Digital

Dalam dunia Elektronika Digital, Pengetahuan Sistem Bilangan merupakan pengetahuan dasar yang wajib dipelajari, karena semua rangkaian digital yang dirancang ataupun perangkat digital menggunakan konsep sistem bilangan tersebut. Sistem Bilangan dalam elektronika digital digunakan untuk mewakili informasi yang akan diolah ataupun pemrosesan hingga hasil olahannya. Sistem Bilangan yang umumnya digunakan dalam teknik elektronika digital diantaranya adalah Sistem Bilangan Desimal, Biner, Heksadesimal dan Oktal.

Sistem Bilangan Desimal (Decimal)

Basis atau Radix dari sistem bilangan Desimal ini adalah 10 yaitu berkisar dari angka 0 hingga 9 (0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9). Digit atau angka yang terletak di sebelah kiri koma desimal disebut dengan bilangan bulat sedangkan digit atau angka yang terletak di sebelah kanan titik desimal disebut dengan bilangan pecahan. Sistem Bilangan Desimal ini merupakan sistem bilangan yang dipergunakan pada kehidupan kita sehari-hari. Perlu diketahui bahwa Indonesia menggunakan koma untuk menunjukan separator (pemisah) antara bilangan bulat dengan bilangan pecahan sedangkan negara-negara lainnya menggunakan tanda titik sebagai separator pecahannya.
Di sistem bilangan desimal ini, digit atau angka yang berada di posisi berturut-turut disebelah kiri koma desimal memiliki bobot 100, 101, 102, 103, 104 dan seterusnya. Sedangkan digit atau angka yang berada di posisi berturut-turut disebelah kanan koma desimal memiliki bobot 10-1, 10-2, 10-3, 10-4 dan seterusnya. Artinya, setiap posisi digit yang ditempati memiliki bobot masing-masing dengan pangkat bilangan yang berbasis 10.
Contoh :
Kita ambil contoh pada sebuah bilangan Desimal 235,12. Bagian bilangan bulatnya adalah 235 sedangkan bagian bilangan pecahannya adalah 0,12. Digit-digitnya 5, 3, dan 2 masing-masing memiliki bobot 102, 101 dan 100. Demikian juga digit 1 dan 2 dibelakang koma memiliki bobotnya masing-masing yaitu 10-1 dan 10-2.
Secara Matematis, dapat kita tulis sebagai berikut :
235,12 = (2 x 102) + (3 x 101) + (5 + 100) + (1 x 10-1) + (2 x 10-2)

Sistem Bilangan Biner (Binary)

Sistem Bilangan Biner atau Binary Numbering System adalah sistem bilangan yang berbasis dua dan merupakan sistem bilangan yang digunakan oleh semua rangkaian elektronika yang bersistem digital. Basis atau Radix dari sistem bilangan Biner ini adalah 2 yaitu angka 0 dan 1 saja. Di sistem bilangan Biner ini, setiap angka atau digit memiliki bobot 20, 21, 22, 23, 24 dan seterusnya.
Contoh :
Sebagai contoh, kita gunakan bilangan Biner 10112. Ini berarti digit-digitnya yaitu 1, 0, 1 dan 1 memiliki bobot masing-masing 23, 22, 21 dan 20 (dihitung dari kanan ke kiri).
Secara Matematis, dapat kita tulis sebagai berikut :
10112 = (1 x 23) + (0 x 22) + (1 + 21) + (1 x 20)
Jika kita konversikan bilangan biner 10112 ke bilangan desimal akan menjadi 11.

Sistem Bilangan Oktal (Octal)

Sistem Bilangan Oktal atau Octal Numbering system adalah sistem bilangan yang berbasis delapan (8). Jadi, angka yang digunakan adalah berkisar diantara 0 hingga 7 (0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7). Di sistem bilangan Oktal ini, masing-masing angka atau digit memiliki bobot 80, 81, 82, 83, 84 dan seterusnya.
Contoh :
Sebagai contoh, kita gunakan bilangan Oktal 72148. Ini berarti digit-digitnya yaitu 7, 2, 1 dan 4 memiliki bobot masing-masing 83, 82, 81 dan 80.
Secara Matematis, dapat kita tulis sebagai berikut :
72148 = (7 x 83) + (2 x 82) + (1 + 81) + (4 x 80)
Jika kita konversikan bilangan Oktal 72148 bilangan Desimal akan menjadi 3724.

Sistem Bilangan Heksadesimal (Hexadecimal)

Sistem Bilangan Heksadesimal atau Hexadecimal Numbering System adalah sistem bilangan yang berbasis 16. Sistem Bilangan Heksadesimal ini menggunakan angka atau digit 0 hingga 9 dan huruf A sampai F (0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, A, B, C, D, E, F). Huruf A hingga F ekivalen dengan 10 hingga 16. Jadi, pada dasarnya sistem bilangan Heksadesimal ini merupakan gabungan angka dan huruf. Di sistem bilangan Heksadesimal ini, masing-masing angka atau digit memiliki bobot 160, 161, 162, 163, 164 dan seterusnya.
Contoh :
Sebagai contoh, kita gunakan bilangan Oktal 7A1C16. Ini berarti digit-digitnya yaitu 7, A, 1 dan C memiliki bobot masing-masing 163, 162, 161 dan 160.
Secara Matematis, dapat kita tulis sebagai berikut :
7A1C16 = (7 x 163) + (10 x 162) + (1 + 161) + (2 x 160)
Jika kita konversikan bilangan Heksadesimal 7A1C16




DESAIN RUMAH DAN REKAPITULASI DAYA Lantai1 DIKETAHUI :    1. Lampu 8 watt : 9 buah   9x8 = 72 watt 2.  Lampu 12 w...